Paduan Dua Storage dalam Satu Perangkat

Teknologi hybrid drive pertama kali diperkenalkan oleh Seagate. Kali ini, Western Digital menyempurnakan teknologi tersebut dengan produk terbarunya, Western Digital Black2 Dual Drive. Berbeda dengan Seagate Momentus XT, Western Digital Black2 Dual Drive bukan lah hybrid drive, melainkan sebuah SSD dan hard disk yang disatukan dalam sebuah case 2,5”. Dengan ukuran yang kecil sebesar 2,5” , sehingga dapat digunakan pada notebook. Western Digital menyadari bahwa kebutuhan SSD dan hard disk adalah dua hal yang tidak bisa disatukan.

Pengguna notebook yang menginginkan performa lebih kencang pasti akan memilih untuk mengganti hard disk miliknya dengan SSD. Namun, sebagai media penyimpanan data, hard disk mekanik tetap yang terbaik. Untuk itulah muncul Western Digital Black2 Dual Drive yang merupakan gabungan SSD berkapasitas 120 GB dengan hard disk berkapasitas 1 TB. Paket penjualannya dikemas dalam kotak eksklusif.

Sebuah flash disk turut disertakan, berisi tautan untuk men­download software yang diperlukan. Pada website tersebut juga tersedia Acronis True Image WD Edition yang dirancang khusus untuk Western Digital Black2 Dual Drive. Selain itu, juga terdapat software pendukung lainnya yang diperlukan apabila terjadi masalah pada Western Digital Black2 Dual Drive.

Pada saat pertama kali menggunakan Western Digital Black2 Dual Drive, yang terdeteksi hanyalah SSD berkapasitas 120 GB. Untuk mengaktifkan hard disk berkapasitas 1 TB dibutuhkan software khusus yang dapat di­download pada website yang telah disebutkan sebelumnya. Setelah instalasi, barulah muncul drive baru berkapasitas 1 TB.

Pengguna notebook dapat menggunakan Western Digital Black2 Dual Drive dalam dua cara, yang pertama adalah melakukan fresh install Windows dengan melakukan backup data­data penting terlebih dahulu. Sedangkan cara yang kedua adalah melakukan backup dan cloning Windows menggunakan Acronis True Image WD Edition.

Ubah Pola Asuh, Jadikan Anak Tangguh

Mama Papa sebaiknya menempa mental anak agar tangguh, sehingga stres apalagi depresi pada anak dapat diminimalkan. Berikut caranya:

  1. Jadilah pendengar yang baik. Jadilah wadah curhat yang setia menampung setiap keluh kesah anak. Artinya, Mama Papa perlu meluangkan waktu bersama anak. Sesibuk apa pun, jalin komunikasi yang hangat dan terbuka dengan anak. Idealnya, komunikasi dilakukan secara langsung agar orangtua bisa melihat respons, ekspresi, dan bahasa tubuh anak dengan jelas. Komunikasi pun bisa dilakukan lebih dalam dan terbuka. Tapi bila waktu tak memungkinkan, komunikasi tak langsung pun bisa jadi alternatif pengganti. Dengan adanya komunikasi, setidaknya anak memiliki ventilasi, mengeluarkan unek-uneknya, berbagi beban dan perasaan. Semua itu berperan dalam menempa mental anak yang sehat.
  2. Ajari anak menghadapi kekecewaan. Jangan manjakan anak, memenuhi semua keinginan, serta mengabulkan semua permintaannya. Ingat, dalam keseharian anak akan menghadapi kekecewaan atau pengalaman tak menyenangkan. Jadi, ajari anak agar bisa menerima kekecewaan. Di sini orangtua tidak memaksa anak agar kebal kecewa, melainkan agar ia dapat melampiaskan kekecewaan dengan aman atau positif. Misal, menunda keinginan Si Upik membeli boneka Putri Elsa. Katakan, anak boleh cemberut atau bermuka masam, tapi tidak perlu mengamuk apalagi merusak sesuatu. Berikan juga motivasi agar anak lebih giat menabung, sehingga bisa cepat membeli boneka itu.
  3. Pola asuh kasih sayang. Pola asuh ini tidak keras ataupun penuh hukuman fi sik untuk mendisiplinkan anak, melainkan lewat penjadwalan rutinitas anak. Misal, agar anak tidak terlambat masuk sekolah, orangtua perlu membiasakan anak tidur tepat waktu dan bangun pagi. Juga membangun kemandirian, sehingga anak tidak kelewat bergantung pada orang dewasa. Selain itu, pola asuh ini juga tidak permisif, membebaskan anak berbuat semau-maunya. Ingat, anak juga perlu didisiplinkan agar siap menerima aturan yang ada lingkungannya.
  4. Belajar memecahkan masalah. Ajari anak agar dapat memecahkan masalah sendiri. Saat terjadi konfl ik, jangan langsung mengintervensi atau mendikte. Tanyakan dulu pada anak, apakah ia memiliki ide atau solusi atas permasalahannya. Mama Papa boleh saja memberikan usul, tapi jangan sampai memaksa karena dapat melemahkan anak dalam memecahkan masalah.

Untuk anak yang akan mengikuti tes IELTS sebaiknya berikan ia persiapan di tempat terbaik les persiapan IELTS di Jakarta.

3 Sumber Penyebab Stres pada Anak Bagian 2

  • Mama Papa harus melihat kemampuan anak masing-masing. Amati dengan jeli perkembangan dan kemampuannya saat ia menyelesaikan soal-soal, pekerjaan rumah, nilai rata-rata ujian sekolah, dan lainnya. Bila potensi anak hanya 70, jangan paksa untuk mendapatkan nilai 100.
  • Temukan kelebihan dan kekurangan anak. Jangan sampai kelebihan anak tidak tergali karena orangtua terlalu fokus mendorong anak di bidang tertentu yang menjadi kelemahan alias sulit dikuasainya. Bisa saja orangtua terlalu memfokuskan anak agar menguasai matematika yang kurang disukainya, padahal ia memiliki bakat bahasa yang baik. Akhirnya, matematika tidak dikuasainya, potensi bahasa pun tidak tergali.
  • Mama Papa jangan memberi target, coba motivasi anak agar membuat target sendiri, sehingga ia terpacu menguasai bidang atau keterampilan tertentu sesuai dengan kemampuannya. Mama Papa hanya perlu berkata, ”Do your best” alias lakukan yang terbaik.
  1. Perlakuan kasar atau bullying. Perlakuan ini bisa didapat anak dari orangtua, teman, dan lingkungan, baik verbal maupun nonverbal, entah pukulan, cubitan, jambakan, atau perkataan yang meruntuhkan harga diri anak, ”Bodoh”, ”Nakal”, ”Jahat”, dan lainnya. Bila perlakuan ini dialami, anak bisa mengalami stres ringan. Dalam kondisi ini, anak masih bergaul atau berinteraksi dengan pelaku, tapi bila perlakuan ini intensif terjadi, anak biasanya menjaga jarak dengan pelaku, mulai membatasi sosialisasi. Dan hal yang paling akhir adalah bila pelaku yang terus menerus meneror anak, dengan begitu perilaku anak bisa menjadi tidak terkendali dan menjadi takut ketika sedang berhadapan dengan pelaku. Fase ini bisa disebut dengan depresi. Apa yang harus dilakukan?
  • Cermati tanda-tanda anak di-bully, seperti luka di tubuh, barang anak sering hilang, mengalami sakit fisik, mogok sekolah, trauma, senang menyendiri, dan lainnya.
  • Jalin dialog hangat dengan anak. Biarkan anak mengungkapkan apa yang dialami tanpa dihakimi terlebih dahulu.
  • Jalin kerja sama dengan pihak sekolah, guru, orangtua pelaku, dan lainnya untuk menemukan detail kejadian secara objektif, lalu mendapatkan solusi terbaik.
  • Katakan pada anak, bila mendapat perlakuan kasar, jangan sungkan untuk mengatakannya kepada guru atau orangtua. Ini untuk meminimalkan terjadinya perilaku bullying di sekolah.
  • Sebagai orangtua, lakukan introspeksi pola asuh selama ini. Mendisiplinkan anak lewat cara-cara kekerasan, merendahkan anak, dan tindakan negatif lainnya tidak akan berhasil. Lakukan disiplin lewat kasih sayang.

3 Sumber Penyebab Stres pada Anak

Biasanya, ada beberapa penyebab yang membuat anak menjadi stres, diantaranya berikut ini :

  1. Kepadatan jam belajar anak. Harus diakui, keinginan orangtua untuk menjadikan anak serba bisa, membuat anak dijejali dengan berbagai kursus, baik formal maupun informal. Setelah seharian belajar di sekolah, anak harus kursus berhitung dan bahasa. Dan ada juga beberapa kegiatan lainnya, yang sebagian besar orangtua mengganggap bahwa kegiatan itu untuk memaksimalkan dan menggali potensi dari anak. Akibatnya, anak pun kehilangan waktu untuk bermain dan bersantai. Ingat, anak ibarat sebuah gelas kosong. Gelas itu harus diisi dengan takaran air yang tepat agar penuh. Bila tidak, airnya akan tumpah. Apa yang harus dilakukan?
  • Libatkan anak dalam mengambil keputusan, utamanya saat memilih kursus atau ekstrakurikuler tertentu yang akan menguras waktu dan tenaga. Dengan cara itu, tubuh anak akan berusaha menyesuaikan diri alias adaptif terhadap berbagai perubahan dan tuntutan yang ada, sehingga anak tidak mudah stres.
  • Hindari memaksa anak mengikuti les atau kursus yang tidak disukai, karena ikut-ikutan orangtua lain, atau kursus tersebut sedang populer.
  • Bila sudah mengikuti kursus, amati tanda-tanda kejenuhan pada anak, seperti: sering marah-marah, tidur, cemberut, dan tanda lainnya yang menunjukkan anak tidak suka dengan les/kursus tersebut. Ini tandanya keikutsertaan anak pada kursus itu perlu dievaluasi bersama anak.
  • Cermati tanda-tanda psikosomatis (gangguan psikis yang tampil dalam bentuk gejala-gejala fisik), seperti: sering sakit perut, pusing, sakit kepala, dan lainnya. Hal ini berarti, anak mulai tidak happy dengan kegiatan tersebut. Tinjau ulang bersama anak.
  • Pastikan anak tetap memiliki kesempatan untuk bermain dan beristirahat.
  • Jangan bandingkan anak satu dengan anak lain. Sebab, kemampuan anak, masing-masing berbeda. Ada anak yang enjoy saja mengikuti banyak kursus, tapi ada juga yang merasa tertekan. Pahami karakter anak.
  1. Target melebihi kemampuan anak. Setiap anak dianugerahi kemampuannya masing-masing. Ada anak yang menonjol di bidang matematika, tapi lemah di bidang sosial. Demikian sebaliknya, meskipun ada anak yang multitalenta, memiliki kemampuan lebih di berbagai bidang. Target atau hasil yang terlalu berlebihan daripada kemampuan yang dimiliki oleh anak akan membuatnya menjadi stres, bahkan lebih dari itu bisa menyebabkan anak menjadi depresi. Apa yang harus dilakukan?

Simak juga tempat terbaik untuk anak yang ingin mahir dalam berbahasa asing , seperti di lembaga les belajar bahasa Perancis di Jakarta yang terbaik.