3 Sumber Penyebab Stres pada Anak Bagian 2

  • Mama Papa harus melihat kemampuan anak masing-masing. Amati dengan jeli perkembangan dan kemampuannya saat ia menyelesaikan soal-soal, pekerjaan rumah, nilai rata-rata ujian sekolah, dan lainnya. Bila potensi anak hanya 70, jangan paksa untuk mendapatkan nilai 100.
  • Temukan kelebihan dan kekurangan anak. Jangan sampai kelebihan anak tidak tergali karena orangtua terlalu fokus mendorong anak di bidang tertentu yang menjadi kelemahan alias sulit dikuasainya. Bisa saja orangtua terlalu memfokuskan anak agar menguasai matematika yang kurang disukainya, padahal ia memiliki bakat bahasa yang baik. Akhirnya, matematika tidak dikuasainya, potensi bahasa pun tidak tergali.
  • Mama Papa jangan memberi target, coba motivasi anak agar membuat target sendiri, sehingga ia terpacu menguasai bidang atau keterampilan tertentu sesuai dengan kemampuannya. Mama Papa hanya perlu berkata, ”Do your best” alias lakukan yang terbaik.
  1. Perlakuan kasar atau bullying. Perlakuan ini bisa didapat anak dari orangtua, teman, dan lingkungan, baik verbal maupun nonverbal, entah pukulan, cubitan, jambakan, atau perkataan yang meruntuhkan harga diri anak, ”Bodoh”, ”Nakal”, ”Jahat”, dan lainnya. Bila perlakuan ini dialami, anak bisa mengalami stres ringan. Dalam kondisi ini, anak masih bergaul atau berinteraksi dengan pelaku, tapi bila perlakuan ini intensif terjadi, anak biasanya menjaga jarak dengan pelaku, mulai membatasi sosialisasi. Dan hal yang paling akhir adalah bila pelaku yang terus menerus meneror anak, dengan begitu perilaku anak bisa menjadi tidak terkendali dan menjadi takut ketika sedang berhadapan dengan pelaku. Fase ini bisa disebut dengan depresi. Apa yang harus dilakukan?
  • Cermati tanda-tanda anak di-bully, seperti luka di tubuh, barang anak sering hilang, mengalami sakit fisik, mogok sekolah, trauma, senang menyendiri, dan lainnya.
  • Jalin dialog hangat dengan anak. Biarkan anak mengungkapkan apa yang dialami tanpa dihakimi terlebih dahulu.
  • Jalin kerja sama dengan pihak sekolah, guru, orangtua pelaku, dan lainnya untuk menemukan detail kejadian secara objektif, lalu mendapatkan solusi terbaik.
  • Katakan pada anak, bila mendapat perlakuan kasar, jangan sungkan untuk mengatakannya kepada guru atau orangtua. Ini untuk meminimalkan terjadinya perilaku bullying di sekolah.
  • Sebagai orangtua, lakukan introspeksi pola asuh selama ini. Mendisiplinkan anak lewat cara-cara kekerasan, merendahkan anak, dan tindakan negatif lainnya tidak akan berhasil. Lakukan disiplin lewat kasih sayang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *